minggu kemarin tiba-tiba dapet mensyen rikues cerpen tentang RANS. dan beberapa menit kemudian Mayang diangkat jadi adiknya Raffi Ahmad. Oke skip, ini garing. setelah melalui proses yang agak lama mengingat udah jarang nulis lagi karena kesibukan jadi putri tidur, akhirnya bisa jadi juga. belum sepenuhnya jadi sih, masih setengahnya. padahal rencana awalnya dibikin oneshoot. tapi nyatanya masih setengah jalan aja udah sampe 12 lembar di ms.wordnya -_-
di cerita ini semua tokoh dibikin out of caracter! beda dari karakter aslinya! jadi maap-maap kate ye kalo ada yang kurang puas, typo dimana-mana, EyD juga kadang ngelantur, karna yang sempurna itu hanya milik Tuhan yang Maha Esa. Al-Fatihah.. Aamiin.. oh ya satu lagi, kalo ada yang ga suka sama ni cerita udah ga usah ribetin diri buat baca..oke, cekibrot!!
***
Terik sang raja
siang tak menyurutkan semangat sekumpulan pria untuk tetap berlari ditengah
lapangan yang luas itu. Tercetak jelas kaos yang mereka pakai kini telah basah
oleh keringat. Bahkan berkali-kali mereka harus mengusap keringat yang melintas
dipelipisnya. Terasa merepotkan memang ketika harus berkonsentrasi tiba-tiba
butiran ion itu harus menutup pandangan mereka. Tak jarang itu mengakibatkan
apa yang mereka jaga harus beralih ke lawan main.
“Ganbatte^ Raffi-kun!”
Orang yang
dipanggil menoleh. Dan,
‘Bruk!
Ia terjatuh dan meringis
kesakitan menempelkan tangan kanannya ke dahinya yang terkena tembakan bola.
“Sorry bro, lo
gapapa kan?” sahut rekannya sambil mengulurkan tangannya.
“Gapapa Za” ia
berhasil berdiri kembali “gue ke pinggir dulu ya!” kemudian berlari menuju orang
yang membuat konsentrasinya buyar.
“Are you okay?”
Tanya wanita itu.
“Oke apanya..”
ia mengambil botol air mineralnya dan meneguk hampir setengahnya.
Wanita itu
memajukan bibirnya, “tetep ya juteknya ga ilang.. Pacar sengaja begitu nyampe
bandara langsung kesini bukannya nampang wajah seneng, tanya kabar kek atau apa
gitu,”
Lawan bicaranya
hanya membalas helaan napas.
“Jawab kalo aku
ngomong Raffi!!”
“Iya iya.. Kamu
juga lama di Jepang malah tambah cerewet,”
“Udah? Gitu
aja?”
“Aku belum
selesai. Kalo aku ngomong dengerin dulu Gita,”
Orang yang
disebut dengan Gita malah menambah panjang bibrnya yang sudah maju sedari tadi.
“Kayak yang
cantik aja bibir digitu-gituin,” tawa Raffi pecah “Lagian katanya baru dateng
dari Jepang, tapi buktinya ga bawa satupun koper. Jangan-jangan udah pulang
dari kemaren cuman sengaja ga ngabarin,”
“Ih! Kopernya
udah dibawa sama adik kamuuu!! Dia sendirian yang jemput, gara-gara kamu ada
training buat pertandingan bulan depan. Ya udah Gigi langsung kesini. Apa
salahnya sih seorang yang pengen numpas habis kangen beratnya dengan langsung
ketemuan sama pacarnya sendiri” Gigi terhenti sejenak “Ya ampun.. Nasib deh
jatuh cinta sama cowo yang ga romantis,” Gigi menundukkan kepalanya sambil
menggeleng ria.
Komando dari
pelatih untuk berkumpul menghentikan tawa renyah Raffi. Tanpa banyak bicara,
Raffi menuju pelatihnya setelah merusak rambut Gigi. Entah apa yang memotivasi
Raffi untuk mengacak-acak tatanan rambut sang kekasih itu menjadi hobinya sejak
mereka saling mengenal. Ya, Raffi dan Nagita atau biasa disapa Gigi ini memang
sudah berteman ketika masih duduk dibangku sekolah dasar. Namun kenyataannya
mereka harus terpisah oleh jarak. Gigi harus ikut kedua orang tuanya untuk
pindah ke Surabaya. Dan akhirnya saat 3 tahun yang lalu, mereka bertemu kembali
secara tak sengaja. Pertemuan yang jauh dari kata romantis. Tak seperti
sinetron atau ftv yang pernah Gigi nonton dimana adegan dua insan yang bertatap
muka lagi dengan cara yang tak sengaja. Seperti tak sengaja bertabrakan lalu
sama-sama memungut buku yang berserakan atau mengambil sapu tangan yang sama
kemudian diakhiri dengan saling tatap muka. Oh sayangnya itu tak terjadi pada
kehidupannya. Awal kisah cinta mereka diawali karena Gigi selesai beribadah
disalah satu masjid di Bandung, ia memakai sandal Raffi yang kebesaran. Sekali
lagi, GIGI MEMAKAI SANDAL RAFFI YANG KEBESARAN!! Krik. Gigi sendiri merasa geli
bila mengingat kejadian itu. Padahal dulu itu ia tak menyangka sandal Ayahnya
yang ia pakai itu sama dengan yang Raffi pakai. Jauh dari bayangan Gigi tentang
pertemuan pendamping masa depannya. Ternyata ia bertemu dengan ‘pangeran
berkudanya’ hanya karena sepasang sandal. Sekali lagi, krik.
Sekitar lima
belas menit kemudian Raffi kembali menghampiri pujaan hatinya.
“Latihannya udah
beres, langit udah mendung tuh. Aku bawa motor, kamu pulang pake taksi aja,”
Raffi to the point.
“Ih tau gitu
tadi langsung pulang aja kalo ujungnya naik taksi,” Gigi mengalihkan pandangan
dan menyilangkan tangannya diatas perutnya.
“Ya udah deh
terserah nona cerewetku ajalah,”
Gigi tersenyum
lebar. Bukan. Bukan karna Raffi melunak. Tapi karna telinganya menangkap
perkataan ‘nona cerewetku’ dari bibir kekasihnya. Ia tak tersinggung. Justru,
itu menunjukkan kata kepemilikan yang berarti Gigi milik Raffi seorang.
***
Meski petir
sudah tak terdengar lagi, sepertinya awan-awan cumulonimbus masih enggan
menguap dari hamparan langit Ibukota. Padahal awan hasil bentukkan dari
ketidakstabilan atmosfer ini sudah mengudara sejak 3 jam yang lalu. Agak ah
tidak, ini sangatlah merepotkan bagi pengendara sepeda motor yang tidak
mempersiapkan kondisi cuaca yang akhir-akhir ini tidak beres. Yang semestinya
musim hujan, justru kemarau. Begitu pun sebaliknya. Itu juga terlihat pada 2
insan yang sedang dilanda jatuh cinta. Meski salah satunya jarang sekali
terlihat sedang, ehem jatuh cinta. Hujan deras yang mengguyur memaksa mereka
untuk menyingkir dari jalanan utama dan berteduh dibawah warung kecil yang
mungkin sudah lama tak terpakai. Terlihat dari kayu-kayunya yang sudah mulai
rapuh dimakan waktu. Begitu juga mereka. Hanya saja mereka rapuh karena
digerogoti rasa bosan.
“Gimana nih Fi?
Udah mau magrib tapi ujan belum juga reda. Pegel nih.. Dingin lagi..” Gigi
tampak bosan.
“Ya mau gimana
lagi. Aku lupa ga bawa jas hujan.. Kamu sih tiba-tiba dateng ke Lapangan.
Disuruh pulang pake taksi malah gamau. Romantis ngga, nyengsarain iya,”
kemudian melirik Gigi yang sedang menyilangkan tangannya dikedua lengannya “Kenapa?
Dingin?” Raffi duduk disamping kekasihnya sambil memakaikan jaket kulitnya ke
pundak Gigi.
“Affi.. Kamu kan
cuma pake kaos pendek aja, nanti kamu sakit”
Raffi semakin
merapatkan duduknya dan merangkul erat lengan kanan Gigi, “Kalo gini jadi
hangat kan?” Raffi menyinggungkan senyum.
‘Jarang banget
Raffi jadi sehangat ini.. Romantis.. Ini cowo punya dua kepribadian apa. Kadang
cueknya kebangetan tapi sekalinya romantis bikin melting. Aaaa!!’ batin Gigi
“Pulang sekarang
aja yuk! Kamu pake aja jaketnya. Masih gerimis sih, tapi daripada nunggu lebih
lama lagi. Lagian juga aku mulai ngantuk,” Raffi merentangkan tangannya sambil
menguap.
‘Plak!
“Aw! Kok aku
ditampar?” Raffi mengelus-elus pipi tembemnya
“Biar kamu ga
ngantuk. Kan ga lucu, nyampe rumah tinggal nama doang” oceh Gigi
“Iya iya
cerewet. Cepet naik,” Raffi memakai helmnya setelah menunggangi motornya “Nanti
peluk yang kenceng ya?” Raffi tersenyum menyeringai
“Mesuuuumm!!”
***
“Akhirnya sampe
juga..” Raffi memarkirkan motornya. “Woy, kamu tidur ya?” Raffi terpaksa
menggendong tubuh Gigi. ‘Haaahh.. Ada-ada aja..’
***
“Maa,” Raffi menidurkan
Gigi dikamarnya “Mamaa,”
“Iya ga perlu
teriak-teriak kan bisa,” muncul suara dari ruang tengah “Loh? Itu Gigi kenapa?”
Amy mendekati Gigi.
“Tolong gantiin
bajunya Gigi, keujanan dijalan. Aa mau ganti baju dulu. Brrr!” Raffi mengambil
handuk birunya.
“Ngga, ini Gigi
menggigil gitu Aa ga sadar?”
Raffi segera
berbalik, “Astagfirullah..” ia meremas rambutnya dengan kedua tangannya.
Terdiam dalam beberapa detik dibibir pintu. Memerhatikan kekasihnya yang tengah
tersiksa akibat diinginnya hujan. Juga sikapnya yang terlalu ceroboh. Ia
tersadar sikapnya ini terlalu dingin.
“Aa kok diem
aja! Ga liat Gigi sampe sesak napas gitu? Cepet bawa ke Rumah Sakit!” bentak
Sang Bunda yang tak kalah paniknya.
Tanpa komando
ulang, Raffi langsung membopong Gigi ke mobilnya.
***
Entah mungkin
akibat hujan yang sejak siang tadi mengguyur Ibukota yang menjadi sebab utama orang enggan
melenggangkan kendaraannya menuju jalanan raya. Jalanan terlihat lengang. Hanya
ada beberapa kendaraan saja melintas dengan begitu santainya. Namun ada satu
yang terlihat begitu terburu-buru. Menghabiskan waktu yang sedang memburu.
Terlihat seorang pria tengah duduk dibangku kemudi dan dua orang wanita di
bangku belakang. Yang membedakannya, salah satu dari wanita itu tengah tersiksa
dengan kondisi tubuhnya diatas pangkuan seorang wanita yang usianya jauh lebih
tua darinya.
“Dingin..”
ucapnya lirih
“Sabar ya Nak..
Sebentar lagi nyampe kok,” sambil memeluknya berharap kedinginannya sedikit
sirna.
“Argh! Kuso^!” Raffi yang tertular kebiasaan
Gigi menggerutu dengan bahasa Jepang itu mengacak-acak rambutnya.
“Kok berhenti
A?”
“Ga tau nih,
lagi urgent gini malah macet!” Raffi
mengedarkan pandangannya keluar jendela. “Kayaknya didepan ada banjir Ma,”
Raffi terhenti sejenak menatap kekasihnya yang masih menggigil kemudian Raffi
keluar dari bangku kemudi dan membuka pintu bangku belakang “Rumah Sakitnya
udah keliatan Ma, Gigi mau Aa bawa lari aja. Kalo nunggu macetnya kelar bisa
nyampe besok,” Raffi kembali menggendong tubuh ramping Gigi. “Mama hati-hati
bawa mobilnya,”
Setelah dibalas
anggukkan dari Amy, Raffi langsung menuju trotoar dan berlari sekencang
mungkin. Sekilas ia menatap wajah Gigi yang pucat. Langkahnya agak melemah
seiring robohnya bendungan cairan hangat matanya. Ia menangis diantara
rintiknya hujan yang masih mengguyur. Tidak. Ia tak boleh selemah ini.
Kekasihnya harus segera mendapatkan penanganan medis!
***
Tok! Tok! Tok!
Tak begitu lama
Amy muncul dari balik pintu. Raffi hanya menoleh kemudian kembali menatap rival
tercintanya tergolek lemah dengan dibantu alat oksigen.
“Gimana
sekarang?” Tanya Amy to the point.
“Udah baikan Ma.
Sekarang Gigi lagi tidur. Tadi Aa juga udah nelpon Ibu sama Ayahnya Gigi, besok
pagi mereka kesini kok,”
Amy menghela
napas, “Kamu ganti baju dulu gih. Tadi Mama sempet beli baju dulu inget Aa
masih basah-basahan,” sambil memberikan bungkusan. Tak pernah ia melihat anak
sulungnya ini begitu frustasi.
***
“Assalamu’alaikum..”
seseorang, ah dua orang muncul beriringan dari balik pintu.
“Wa’alaikumsalam..
Eh, Ibu sama Ayah..” sambut Gigi
“Gimana keadaan
kamu sayang? Maafin Ibu ya, ga bisa nemenin,” Rita menghambur memeluk anak
semata wayangnya itu
“Iya gapapa,
lagian juga udah enakkan kok Bu.. Kata Dokter besok juga udah bisa pulang,”
“Anak jagoan
Ayah,” Gideon hanya mengelus sayang rambut Gigi.
Rita mengedarkan
pandangannya dan terpaku pada sosok pria yang ia kenalnya tengah meringkuk
diatas sofa. “Raffinya ada, Mamanya mana?”
“Oh, Mama
lagi..” ucap Gigi terhenti
“Eh ada Ibu sama
Ayahnya Gigi.. Udah lama dateng?” Amy yang baru keluar dari toilet langsung
menghampiri calon Besannya.
“Baru aja kok
Jeng.. Aduh makasih banyaknya udah jagain Gigi,” kedua tangan Rita dan Amy
saling bertautan.
“Iya gapapa..
Lagian Raffi yang jagain Gigi kok sampe tadi abis solat Subuh dia tidur,
ketiduran disamping ranjangnya Gigi malah.. Mungkin saking capenya dia, disuruh
pindah ke sofa juga sambil merem. Padahal sebelumnya dia ogah banget jauh dari
Gigi,”
“Wah, calon
mantu yang baik ya Yah?” ucapan Rita mengundang gelak tawa seisi ruangan, minus
Raffi dan benda mati tentunya.
“Hhh,” Raffi
mendengus pelan lalu mengucek matanya. Tampak samar-samar disekeliling kedua
matanya menghitam tanda siklus tidurnya terganggu.
“Maa.. Gigi udah
bangun belum?” Raffi bangun dari tidurnya namun matanya masih terpejam.
“Buka matamuuu
Raffi No Baka^!” oceh Gigi
“Eh ada tante
Rita sama Oom Gideon,” Raffi nyengir tak berdosa setelah bentakan kekasihnya
membuat kedua matanya terbuka lebar. Alih-alih berdiri untuk menghampiri kedua
calon mertuanya, justru tubuhnya ambruk begitu saja. Ia tak sadarkan diri.
*to be continue*
^glosarium buat yang belum tau J
Ganbatte = semangat
Kuso = sial
Baka
= begoBuat baca part 2 nya bisa klik disini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar