Rabu, 19 Maret 2014

Tomorrow

Aaaahh akhirnya update lagi setelah hampir setaun blog ini ga keurus *bersihin sarang laba-laba
minggu kemarin tiba-tiba dapet mensyen rikues cerpen tentang RANS. dan beberapa menit kemudian Mayang diangkat jadi adiknya Raffi Ahmad. Oke skip, ini garing. setelah melalui proses yang agak lama mengingat udah jarang nulis lagi karena kesibukan jadi putri tidur, akhirnya bisa jadi juga. belum sepenuhnya jadi sih, masih setengahnya. padahal rencana awalnya dibikin oneshoot. tapi nyatanya masih setengah jalan aja udah sampe 12 lembar di ms.wordnya -_-
di cerita ini semua tokoh dibikin out of caracter! beda dari karakter aslinya! jadi maap-maap kate ye kalo ada yang kurang puas, typo dimana-mana, EyD juga kadang ngelantur, karna yang sempurna itu hanya milik Tuhan yang Maha Esa. Al-Fatihah.. Aamiin.. oh ya satu lagi, kalo ada yang ga suka sama ni cerita udah ga usah ribetin diri buat baca..oke, cekibrot!!

***

Terik sang raja siang tak menyurutkan semangat sekumpulan pria untuk tetap berlari ditengah lapangan yang luas itu. Tercetak jelas kaos yang mereka pakai kini telah basah oleh keringat. Bahkan berkali-kali mereka harus mengusap keringat yang melintas dipelipisnya. Terasa merepotkan memang ketika harus berkonsentrasi tiba-tiba butiran ion itu harus menutup pandangan mereka. Tak jarang itu mengakibatkan apa yang mereka jaga harus beralih ke lawan main.
“Ganbatte^ Raffi-kun!”
Orang yang dipanggil menoleh. Dan,
‘Bruk!
Ia terjatuh dan meringis kesakitan menempelkan tangan kanannya ke dahinya yang terkena tembakan bola.
“Sorry bro, lo gapapa kan?” sahut rekannya sambil mengulurkan tangannya.
“Gapapa Za” ia berhasil berdiri kembali “gue ke pinggir dulu ya!” kemudian berlari menuju orang yang membuat konsentrasinya buyar.
“Are you okay?” Tanya wanita itu.
“Oke apanya..” ia mengambil botol air mineralnya dan meneguk hampir setengahnya.
Wanita itu memajukan bibirnya, “tetep ya juteknya ga ilang.. Pacar sengaja begitu nyampe bandara langsung kesini bukannya nampang wajah seneng, tanya kabar kek atau apa gitu,”
Lawan bicaranya hanya membalas helaan napas.
“Jawab kalo aku ngomong Raffi!!”
“Iya iya.. Kamu juga lama di Jepang malah tambah cerewet,”
“Udah? Gitu aja?”
“Aku belum selesai. Kalo aku ngomong dengerin dulu Gita,”
Orang yang disebut dengan Gita malah menambah panjang bibrnya yang sudah maju sedari tadi.
“Kayak yang cantik aja bibir digitu-gituin,” tawa Raffi pecah “Lagian katanya baru dateng dari Jepang, tapi buktinya ga bawa satupun koper. Jangan-jangan udah pulang dari kemaren cuman sengaja ga ngabarin,”
“Ih! Kopernya udah dibawa sama adik kamuuu!! Dia sendirian yang jemput, gara-gara kamu ada training buat pertandingan bulan depan. Ya udah Gigi langsung kesini. Apa salahnya sih seorang yang pengen numpas habis kangen beratnya dengan langsung ketemuan sama pacarnya sendiri” Gigi terhenti sejenak “Ya ampun.. Nasib deh jatuh cinta sama cowo yang ga romantis,” Gigi menundukkan kepalanya sambil menggeleng ria.
Komando dari pelatih untuk berkumpul menghentikan tawa renyah Raffi. Tanpa banyak bicara, Raffi menuju pelatihnya setelah merusak rambut Gigi. Entah apa yang memotivasi Raffi untuk mengacak-acak tatanan rambut sang kekasih itu menjadi hobinya sejak mereka saling mengenal. Ya, Raffi dan Nagita atau biasa disapa Gigi ini memang sudah berteman ketika masih duduk dibangku sekolah dasar. Namun kenyataannya mereka harus terpisah oleh jarak. Gigi harus ikut kedua orang tuanya untuk pindah ke Surabaya. Dan akhirnya saat 3 tahun yang lalu, mereka bertemu kembali secara tak sengaja. Pertemuan yang jauh dari kata romantis. Tak seperti sinetron atau ftv yang pernah Gigi nonton dimana adegan dua insan yang bertatap muka lagi dengan cara yang tak sengaja. Seperti tak sengaja bertabrakan lalu sama-sama memungut buku yang berserakan atau mengambil sapu tangan yang sama kemudian diakhiri dengan saling tatap muka. Oh sayangnya itu tak terjadi pada kehidupannya. Awal kisah cinta mereka diawali karena Gigi selesai beribadah disalah satu masjid di Bandung, ia memakai sandal Raffi yang kebesaran. Sekali lagi, GIGI MEMAKAI SANDAL RAFFI YANG KEBESARAN!! Krik. Gigi sendiri merasa geli bila mengingat kejadian itu. Padahal dulu itu ia tak menyangka sandal Ayahnya yang ia pakai itu sama dengan yang Raffi pakai. Jauh dari bayangan Gigi tentang pertemuan pendamping masa depannya. Ternyata ia bertemu dengan ‘pangeran berkudanya’ hanya karena sepasang sandal. Sekali lagi, krik.
Sekitar lima belas menit kemudian Raffi kembali menghampiri pujaan hatinya.
“Latihannya udah beres, langit udah mendung tuh. Aku bawa motor, kamu pulang pake taksi aja,” Raffi to the point.
“Ih tau gitu tadi langsung pulang aja kalo ujungnya naik taksi,” Gigi mengalihkan pandangan dan menyilangkan tangannya diatas perutnya.
“Ya udah deh terserah nona cerewetku ajalah,”
Gigi tersenyum lebar. Bukan. Bukan karna Raffi melunak. Tapi karna telinganya menangkap perkataan ‘nona cerewetku’ dari bibir kekasihnya. Ia tak tersinggung. Justru, itu menunjukkan kata kepemilikan yang berarti Gigi milik Raffi seorang.
***
Meski petir sudah tak terdengar lagi, sepertinya awan-awan cumulonimbus masih enggan menguap dari hamparan langit Ibukota. Padahal awan hasil bentukkan dari ketidakstabilan atmosfer ini sudah mengudara sejak 3 jam yang lalu. Agak ah tidak, ini sangatlah merepotkan bagi pengendara sepeda motor yang tidak mempersiapkan kondisi cuaca yang akhir-akhir ini tidak beres. Yang semestinya musim hujan, justru kemarau. Begitu pun sebaliknya. Itu juga terlihat pada 2 insan yang sedang dilanda jatuh cinta. Meski salah satunya jarang sekali terlihat sedang, ehem jatuh cinta. Hujan deras yang mengguyur memaksa mereka untuk menyingkir dari jalanan utama dan berteduh dibawah warung kecil yang mungkin sudah lama tak terpakai. Terlihat dari kayu-kayunya yang sudah mulai rapuh dimakan waktu. Begitu juga mereka. Hanya saja mereka rapuh karena digerogoti rasa bosan.
“Gimana nih Fi? Udah mau magrib tapi ujan belum juga reda. Pegel nih.. Dingin lagi..” Gigi tampak bosan.
“Ya mau gimana lagi. Aku lupa ga bawa jas hujan.. Kamu sih tiba-tiba dateng ke Lapangan. Disuruh pulang pake taksi malah gamau. Romantis ngga, nyengsarain iya,” kemudian melirik Gigi yang sedang menyilangkan tangannya dikedua lengannya “Kenapa? Dingin?” Raffi duduk disamping kekasihnya sambil memakaikan jaket kulitnya ke pundak Gigi.
“Affi.. Kamu kan cuma pake kaos pendek aja, nanti kamu sakit”
Raffi semakin merapatkan duduknya dan merangkul erat lengan kanan Gigi, “Kalo gini jadi hangat kan?” Raffi menyinggungkan senyum.
‘Jarang banget Raffi jadi sehangat ini.. Romantis.. Ini cowo punya dua kepribadian apa. Kadang cueknya kebangetan tapi sekalinya romantis bikin melting. Aaaa!!’ batin Gigi
“Pulang sekarang aja yuk! Kamu pake aja jaketnya. Masih gerimis sih, tapi daripada nunggu lebih lama lagi. Lagian juga aku mulai ngantuk,” Raffi merentangkan tangannya sambil menguap.
‘Plak!
“Aw! Kok aku ditampar?” Raffi mengelus-elus pipi tembemnya
“Biar kamu ga ngantuk. Kan ga lucu, nyampe rumah tinggal nama doang” oceh Gigi
“Iya iya cerewet. Cepet naik,” Raffi memakai helmnya setelah menunggangi motornya “Nanti peluk yang kenceng ya?” Raffi tersenyum menyeringai
“Mesuuuumm!!”
***
“Akhirnya sampe juga..” Raffi memarkirkan motornya. “Woy, kamu tidur ya?” Raffi terpaksa menggendong tubuh Gigi. ‘Haaahh.. Ada-ada aja..’
***
“Maa,” Raffi menidurkan Gigi dikamarnya “Mamaa,”
“Iya ga perlu teriak-teriak kan bisa,” muncul suara dari ruang tengah “Loh? Itu Gigi kenapa?” Amy mendekati Gigi.
“Tolong gantiin bajunya Gigi, keujanan dijalan. Aa mau ganti baju dulu. Brrr!” Raffi mengambil handuk birunya.
“Ngga, ini Gigi menggigil gitu Aa ga sadar?”
Raffi segera berbalik, “Astagfirullah..” ia meremas rambutnya dengan kedua tangannya. Terdiam dalam beberapa detik dibibir pintu. Memerhatikan kekasihnya yang tengah tersiksa akibat diinginnya hujan. Juga sikapnya yang terlalu ceroboh. Ia tersadar sikapnya ini terlalu dingin.
“Aa kok diem aja! Ga liat Gigi sampe sesak napas gitu? Cepet bawa ke Rumah Sakit!” bentak Sang Bunda yang tak kalah paniknya.
Tanpa komando ulang, Raffi langsung membopong Gigi ke mobilnya.
***
Entah mungkin akibat hujan yang sejak siang tadi mengguyur Ibukota  yang menjadi sebab utama orang enggan melenggangkan kendaraannya menuju jalanan raya. Jalanan terlihat lengang. Hanya ada beberapa kendaraan saja melintas dengan begitu santainya. Namun ada satu yang terlihat begitu terburu-buru. Menghabiskan waktu yang sedang memburu. Terlihat seorang pria tengah duduk dibangku kemudi dan dua orang wanita di bangku belakang. Yang membedakannya, salah satu dari wanita itu tengah tersiksa dengan kondisi tubuhnya diatas pangkuan seorang wanita yang usianya jauh lebih tua darinya.
“Dingin..” ucapnya lirih
“Sabar ya Nak.. Sebentar lagi nyampe kok,” sambil memeluknya berharap kedinginannya sedikit sirna.
“Argh! Kuso^!” Raffi yang tertular kebiasaan Gigi menggerutu dengan bahasa Jepang itu mengacak-acak rambutnya.
“Kok berhenti A?”
“Ga tau nih, lagi urgent gini malah macet!” Raffi mengedarkan pandangannya keluar jendela. “Kayaknya didepan ada banjir Ma,” Raffi terhenti sejenak menatap kekasihnya yang masih menggigil kemudian Raffi keluar dari bangku kemudi dan membuka pintu bangku belakang “Rumah Sakitnya udah keliatan Ma, Gigi mau Aa bawa lari aja. Kalo nunggu macetnya kelar bisa nyampe besok,” Raffi kembali menggendong tubuh ramping Gigi. “Mama hati-hati bawa mobilnya,”
Setelah dibalas anggukkan dari Amy, Raffi langsung menuju trotoar dan berlari sekencang mungkin. Sekilas ia menatap wajah Gigi yang pucat. Langkahnya agak melemah seiring robohnya bendungan cairan hangat matanya. Ia menangis diantara rintiknya hujan yang masih mengguyur. Tidak. Ia tak boleh selemah ini. Kekasihnya harus segera mendapatkan penanganan medis!
***
Tok! Tok! Tok!
Tak begitu lama Amy muncul dari balik pintu. Raffi hanya menoleh kemudian kembali menatap rival tercintanya tergolek lemah dengan dibantu alat oksigen.
“Gimana sekarang?” Tanya Amy to the point.
“Udah baikan Ma. Sekarang Gigi lagi tidur. Tadi Aa juga udah nelpon Ibu sama Ayahnya Gigi, besok pagi mereka kesini kok,”
Amy menghela napas, “Kamu ganti baju dulu gih. Tadi Mama sempet beli baju dulu inget Aa masih basah-basahan,” sambil memberikan bungkusan. Tak pernah ia melihat anak sulungnya ini begitu frustasi.
***
“Assalamu’alaikum..” seseorang, ah dua orang muncul beriringan dari balik pintu.
“Wa’alaikumsalam.. Eh, Ibu sama Ayah..” sambut Gigi
“Gimana keadaan kamu sayang? Maafin Ibu ya, ga bisa nemenin,” Rita menghambur memeluk anak semata wayangnya itu
“Iya gapapa, lagian juga udah enakkan kok Bu.. Kata Dokter besok juga udah bisa pulang,”
“Anak jagoan Ayah,” Gideon hanya mengelus sayang rambut Gigi.
Rita mengedarkan pandangannya dan terpaku pada sosok pria yang ia kenalnya tengah meringkuk diatas sofa. “Raffinya ada, Mamanya mana?”
“Oh, Mama lagi..” ucap Gigi terhenti
“Eh ada Ibu sama Ayahnya Gigi.. Udah lama dateng?” Amy yang baru keluar dari toilet langsung menghampiri calon Besannya.
“Baru aja kok Jeng.. Aduh makasih banyaknya udah jagain Gigi,” kedua tangan Rita dan Amy saling bertautan.
“Iya gapapa.. Lagian Raffi yang jagain Gigi kok sampe tadi abis solat Subuh dia tidur, ketiduran disamping ranjangnya Gigi malah.. Mungkin saking capenya dia, disuruh pindah ke sofa juga sambil merem. Padahal sebelumnya dia ogah banget jauh dari Gigi,”
“Wah, calon mantu yang baik ya Yah?” ucapan Rita mengundang gelak tawa seisi ruangan, minus Raffi dan benda mati tentunya.
“Hhh,” Raffi mendengus pelan lalu mengucek matanya. Tampak samar-samar disekeliling kedua matanya menghitam tanda siklus tidurnya terganggu.
“Maa.. Gigi udah bangun belum?” Raffi bangun dari tidurnya namun matanya masih terpejam.
“Buka matamuuu Raffi No Baka^!” oceh Gigi
“Eh ada tante Rita sama Oom Gideon,” Raffi nyengir tak berdosa setelah bentakan kekasihnya membuat kedua matanya terbuka lebar. Alih-alih berdiri untuk menghampiri kedua calon mertuanya, justru tubuhnya ambruk begitu saja. Ia tak sadarkan diri.
*to be continue*
^glosarium buat yang belum tau J
Ganbatte = semangat
Kuso = sial
Baka = bego

Buat baca part 2 nya bisa klik disini.






Tidak ada komentar: