‘Oh,
bukankah itu Kakaknya Bintang? Hmm..’ aku mengingat-ingat namanya ‘Oh, Kak
Dinar! Ngapain dia disini?’ batinku menerka-nerka
Kedatangan seorang dokter dan dua orang suster menghilangkan imajinasiku. Tak
sengaja mataku menangkap tubuh tinggi Kak Dinar lagi yang memasuki ruangan yang
ada dihadapan ruang rawatku.
“Sekarang
apa yang dirasain?” Tanya dokter Egi yang muasalnya sepupuku.
“Udah
lebih baik sih mbak.. Tapi kadang agak pusing”
Matanya terpaku pada catatan skala kesehatanku.
“Oh
iya mbak, ruangan yang didepan situ siapa ya mbak?”
“Emangnya
kenapa?” Mbak Egi menggulirkan matanya kearahku.
“Tanya
aja sih mbak hehe”
“Yang
dirawat disitu sih, korban kecelakaan. Masuk sini juga barengan kamu, walaupun
secara timingnya duluan dia.. Emmh, kalo ga salah sih namanya.. Bintang”
‘Deg!’
Jantungku terasa berhenti berdetak. Paru-paruku seakan penuh dengan udara penyesalan.
‘Apa
waktu itu Bintang ga dating karna ini??’
Ruangan terasa tak berudara. Sesak. Emosi itu kini mengumpul dipelupuk mataku.
Ingin ku berlari menghampirinya, namun kakiku terasa kaku. Ingin ku teriakan
penyesalan, namun lidahku begitu kelu. Semua terasa sesak, menyeruak berkumpul
dalam dada. Yang ada dalam pikiranku hanya Bintang.
Ketika mataku terbuka, kulihat mama sedang tertidur pulas disampingku. Aku tak
tau apa yang memengaruhiku tuk berpikir tentang Bintang lagi.
‘Ah!
Aku ingin sekali bertemu dengannya. Betapa keras kepalanya aku saat itu..
Tuhan, bolehkah aku kembali kemasa itu?’ sesalku tak berarti
“Kamu
kenapa nangis? Ada yang sakit?” mama terbangun lalu menyeka air mataku.
“Kenapa
mama ga bilang kalo Bintang kecelakaan? Mama pasti tau soal ini kan?”
“Maafin
mama, Ra.. Mama ga mau keadaan kamu lebih parah kalo kamu tau. Mama ga mau liat
kamu sedih”
“Ma,
Ira pengen jenguk. Ira pengen ketemu sama Bintang” aku menatap lekat wajah
bingung mama, “Please!”
Ia hanya diam, melihat kearahku tanpa berkedip.
“Bintang,
maafin akuu” aku memeluk tubuh kakunya. “Sungguh aku tak pernah menginginkanmu
kesakitan. Apalagi sampai sejauh ini” aku terisak tidak memerdulikan mama yang
sedang mengkhawatirkan keadaanku.
“Om.
Tante ,” aku menatap lekat wajah keduaorang tua Bintang. “Ira akan bertanggung
jawab atas apa yang telah Ira perbuat..”
Sayang..
Meskipun kini kita takkan saling
bersentuhan, menggenggam tangan
Tapi yakinlah aku ada
disampingmu, disetiap hembusan nafasmu
Meskipun mata tak saling tatap,
tapi percayalah aku ada dihatimu, melihatmu dalam keabadian
Kenanglah aku saat kau senang,
saat kau menyunting wanita baru dihatimu
Kenanglah aku saat kau sedih,
saat kau gundah
Ingatlah pada semua
kenangan-kenangan yang pernah kita ukir
Sayang..
Jangan kau biarkan mataku ini
menangis
Aku lelah untuk menangisi
kesedihan yang menerpa kehidupanku
Biarkan tangis bahagia yang
mengalir ketika kau menatap wanita sejatimu
Sayang..
Maafkan aku yang pernah membuatmu
marah
Marah ketika aku malas makan,
marah ketika aku lupa sesuatu, marah pada keego-anku
Maafkan aku juga karna pernah
membuatmu bersedih
Maafkan aku sayang
Sayang..
Mungkin kamu tak melihat saat aku
memohon kepada semua orang
Saat aku menangis dihadapan tuk
meyakinkan mereka
Terutama Mamaku tercinta
Sayang..
Tolong jaga kedua bola mataku
Raihlah cita-citamu setinggi
langit
Carilah wanita yang sekiranya
lebih istimewa dari diriku
Sayang..
Walau tubuhku terkikis oleh
tumpukan tanah
Aku tetap hidup dihatimu
Bersama kedua bola mataku
Sayang..
Inilah saatnya aku mengatakan
rahasiaku selama ini
Dalam tubuh ini tersimpan
kesakitan yang luar biasa
Aku mengidap kanker paru-paru
Tapi kesakitan ini tak sebanding
saat aku harus kehilanganmu
Sayang, jangan menangis..
Hapus air matamu, aku tak ingin
kau bersedih lagi
Aku mendonorkan kedua bola mataku
bukan untuk kau tangisi
Sayang, ternyata ucapanku benar
terjadi
Aku mencintaimu sampai jantungku
berhenti berdetak!
Sayang, aku mencintaimu..
Aku merindukanmu..
I Love You, Bintang..
2 November 2012
Ira Nursyifa, pendarahan saat
mempertaruhkan cinta dan hidupnya