Sabtu, 10 November 2012

Cerita Cinta : Pesan Hitam (part 2)



‘Oh, bukankah itu Kakaknya Bintang? Hmm..’ aku mengingat-ingat namanya ‘Oh, Kak Dinar! Ngapain dia disini?’ batinku menerka-nerka

            Kedatangan seorang dokter dan dua orang suster menghilangkan imajinasiku. Tak sengaja mataku menangkap tubuh tinggi Kak Dinar lagi yang memasuki ruangan yang ada dihadapan ruang rawatku.

“Sekarang apa yang dirasain?” Tanya dokter Egi yang muasalnya sepupuku.

“Udah lebih baik sih mbak.. Tapi kadang agak pusing”

            Matanya terpaku pada catatan skala kesehatanku.

“Oh iya mbak, ruangan yang didepan situ siapa ya mbak?”

“Emangnya kenapa?” Mbak Egi menggulirkan matanya kearahku.

“Tanya aja sih mbak hehe”

“Yang dirawat disitu sih, korban kecelakaan. Masuk sini juga barengan kamu, walaupun secara timingnya duluan dia.. Emmh, kalo ga salah sih namanya.. Bintang”

‘Deg!’ Jantungku terasa berhenti berdetak. Paru-paruku seakan penuh dengan udara penyesalan.

‘Apa waktu itu Bintang ga dating karna ini??’

            Ruangan terasa tak berudara. Sesak. Emosi itu kini mengumpul dipelupuk mataku. Ingin ku berlari menghampirinya, namun kakiku terasa kaku. Ingin ku teriakan penyesalan, namun lidahku begitu kelu. Semua terasa sesak, menyeruak berkumpul dalam dada. Yang ada dalam pikiranku hanya Bintang.


            Ketika mataku terbuka, kulihat mama sedang tertidur pulas disampingku. Aku tak tau apa yang memengaruhiku tuk berpikir tentang Bintang lagi.

‘Ah! Aku ingin sekali bertemu dengannya. Betapa keras kepalanya aku saat itu.. Tuhan, bolehkah aku kembali kemasa itu?’ sesalku tak berarti

“Kamu kenapa nangis? Ada yang sakit?” mama terbangun lalu menyeka air mataku.

“Kenapa mama ga bilang kalo Bintang kecelakaan? Mama pasti tau soal ini kan?”

“Maafin mama, Ra.. Mama ga mau keadaan kamu lebih parah kalo kamu tau. Mama ga mau liat kamu sedih”

“Ma, Ira pengen jenguk. Ira pengen ketemu sama Bintang” aku menatap lekat wajah bingung mama, “Please!”

            Ia hanya diam, melihat kearahku tanpa berkedip.


“Bintang, maafin akuu” aku memeluk tubuh kakunya. “Sungguh aku tak pernah menginginkanmu kesakitan. Apalagi sampai sejauh ini” aku terisak tidak memerdulikan mama yang sedang mengkhawatirkan keadaanku.

“Om. Tante ,” aku menatap lekat wajah keduaorang tua Bintang. “Ira akan bertanggung jawab atas apa yang telah Ira perbuat..”


Sayang..

Meskipun kini kita takkan saling bersentuhan, menggenggam tangan

Tapi yakinlah aku ada disampingmu, disetiap hembusan nafasmu

Meskipun mata tak saling tatap, tapi percayalah aku ada dihatimu, melihatmu dalam keabadian

Kenanglah aku saat kau senang, saat kau menyunting wanita baru dihatimu

Kenanglah aku saat kau sedih, saat kau gundah

Ingatlah pada semua kenangan-kenangan yang pernah kita ukir


Sayang..

Jangan kau biarkan mataku ini menangis

Aku lelah untuk menangisi kesedihan yang menerpa kehidupanku

Biarkan tangis bahagia yang mengalir ketika kau menatap wanita sejatimu


Sayang..

Maafkan aku yang pernah membuatmu marah

Marah ketika aku malas makan, marah ketika aku lupa sesuatu, marah pada keego-anku

Maafkan aku juga karna pernah membuatmu bersedih

Maafkan aku sayang


Sayang..

Mungkin kamu tak melihat saat aku memohon kepada semua orang

Saat aku menangis dihadapan tuk meyakinkan mereka

Terutama Mamaku tercinta


Sayang..

Tolong jaga kedua bola mataku

Raihlah cita-citamu setinggi langit

Carilah wanita yang sekiranya lebih istimewa dari diriku


Sayang..

Walau tubuhku terkikis oleh tumpukan tanah

Aku tetap hidup dihatimu

Bersama kedua bola mataku


Sayang..

Inilah saatnya aku mengatakan rahasiaku selama ini

Dalam tubuh ini tersimpan kesakitan yang luar biasa

Aku mengidap kanker paru-paru

Tapi kesakitan ini tak sebanding saat aku harus kehilanganmu


Sayang, jangan menangis..

Hapus air matamu, aku tak ingin kau bersedih lagi

Aku mendonorkan kedua bola mataku bukan untuk kau tangisi


Sayang, ternyata ucapanku benar terjadi

Aku mencintaimu sampai jantungku berhenti berdetak!


Sayang, aku mencintaimu..

Aku merindukanmu..


I Love You, Bintang..


2 November 2012

Ira Nursyifa, pendarahan saat

mempertaruhkan cinta dan hidupnya

Rabu, 07 November 2012

Cerita Cinta : Pesan Hitam


“Kita harus mengakhiri hubungan kita!”
“Kenapa? Kamu udah ga cinta lagi? Apa aku bikin salah? Atau, ada orang ketiga?”

“Ngga. Bukan itu.. Aku ngerasa ga pantas untuk kamu”

“Jangan pernah katakan itu! Dari awal aku cinta kamu itu tulus. Bukan …”

“Udahlah! Aku khawatir sama masa depan kamu. Bener kata Ayahku …”

“Segampang itu kamu terpengaruh? Selemah itu kamu nyerah gitu aja? Tatap mataku! Lihat apa yang aku rasakan!”

“Ra, cinta emang harus gini. Kita harus berpisah, semoga kamu dapetin yang lebih baik dariku” ia pun pergi.

“Jangan pergi! Kembali..”

        Jejaknya kian pudar oleh rintik-rintik hujan, meninggalkan seserpih luka. Sepi. Sendiri. Menyakitkan. Sungguh, aku tak pernah menduga hal ini akan terjadi. Aku kira kisah ini akan berakhir bahagia. Namun Tuhan berkehendak lain. Ia memiliki cara lain untuk membuat hidupku lebih indah dari sekedar bahagia.

        Aku menjalani kisah ini dengannya sejak beberapa bulan lalu. Pahit manis cinta telah kami telan bersama. Satu hal yang paling ku ingat. Ketika ia memberitahukan bahwa salah satu bola matanya tak bisa berfungsi dengan baik. Jika tak segera diobati, ia akan benar-benar kehilangan kedua bola matanya. Aku menangis sedih. Kemudian ku bertanya bagaimana perasaannya, dia hanya tersenyum dan berkata, “aku ikhlas jika aku harus kehilangan indera-ku ini. Karna apa yang aku miliki, sebenarnya hanya milik Allah. Aku ikhlas bila Ia akan mengambilnya”. Aku menangis terharu. Aku tak menyangka ia akan sekuat ini. Tetapi aku tak mengerti, mengapa ia begitu lemah jika dihadapkan dengan cinta. Aku tak pernah mengerti akan jalan pikirannya.


        Sebulan telah berlalu, ia tak pernah bertemu denganku lagi. Ia pun tak tau apa yang benar sedang terjadi. Tak apalah.. Aku tak mau mengganggu pikirannya. Ini butuh waktu yang tepat.

        Tak hanya sekali aku meminta unutuk bertemu. Tapi ia terus mengelak, mengabaikan permintaanku itu. Aku kesal. Hingga suatu ketika aku memaksanya unutk bertemu ditempat terakhir kami bertatap muka. Pagi hari di Taman Kota.

        Hujan mulai memberikan tetesan kehidupan dikulit Bumi ini, berjam-jam aku menunggu kedatangan seseorang yang terus bergelut dalam pikiranku tapi tak kunjung terlihat. Aku berteduh dibawah pohon rindang, namun tidak cukut kuat menahan terpaan hujan. Badanku mulai basah. Kulihat ponselku mati, mungkin karna kebasahan. Bola mataku terus menelusuri setiap sudut Taman Kota yang mulai tertutup oleh butiran-butiran air hujan. Kian lama, kian deras. Pandanganku sulit untuk melihat sekitar. Dan gelap.


“Kamu udah sadar nak? Syukurlah..”

 “Ini dimana, Ma?” aku mengusap keningku

“Ini di rumah sakit. Mama khawatir kamu kenapa-napa. Kamu ketemuan kok maksa banget. Padahal kalo ujan ya pulang, jangan keras kepala gitu. HP kamu ga aktif, untung kemarin temen mama liat kamu pas pingsan” oceh mama

“Ha? Kemarin?”

“Kamu pingsan sampe seharian. Tolonglah sayang, jaga kesehatan kamu.. Kalo kamu sakit, mama ikut sakit” mama meneteskan air mata

“Maafin Ira ma..”

        Mama mengusap keningku penuh cinta. Matanya memancarkan rona kesedihan. Aku merasa bersalah telah membuat orang yang telah mengandungku selama 6 bulan itu bersedih. Ya, aku memang terlahir prematur. Maka dari itu hingga sekarang kesehatanku sering pasang surut. Ayahku telah menikah lagi setelah bercerai dengan mama. Dan aku adalah anak satu-satunya anak yang terlahir dari rahim mama.

        Seketika ku teringat pada sosok yang sempat ku nanti-nati.

“Ma, Bintang tau Ira gini?”

“Udahlah sayang.. Jangan dulu pikirin yang lain. Fokus dulu untuk kesembuhan kamu. Mama panggil Dokter dulu ya”

        Aku diam menelan pahit. Mengapa untuk bertemu saja sampai begini.. aku melihat dibalik jendela ruang ICU banyak orang yang berlalu lalang. Namun, tanpa sengaja mataku menangkap sesosok yang pernah ku temui.


Tobe continue..

Selasa, 16 Oktober 2012

Cerita Tentang Kita


Ku sadari kehadiranmu membuatku menjadi lebih baik.. slalu membuatku merasa bahwa “aku dibutuhkan”
Mencintaimu itu kebahagiaanku.. Tangis, tawamu juga milikku..
Ku tau dari kedua sisi kita terdapat perbedaan, namun aku tak memperdulikannya.. aku terus mencintaimu, menyayangimu seutuhnya..
Hari-hari tlah kita lewati, aral lintang cobaan tlah kita lalui bersama.. Begitu bertubi-tubi kisah kita diuji.. kau mulai rapuh dengan keadaan, aku mecoba tuk membangunkanmu tapi sia-sia..
Yang ku alami sebelumnya, cinta tak serumit ini.. Tapi kali ini, rintangan serumit apapun aku kan bertahan.. kenapa? Karna kamu berbeda dengan yang lain. Entahlah apa berbeda, tapi yang kurasa kau memang berbeda..
Berkali-kali ku berpikir, mencari suatu jalan keluar menuntaskan apa yang terjadi.. tapi sampai saat ini pun aku tak tau harus berbuat apa.. aku pun rapuh..
Di penghujung malam aku meniti air mata, aku tak mau ini berakhir begitu saja.. aku terdiam, membisu seperti keheningan malam.. hanya senyuman yang membungkus kesedihanku saat bersama yang lain.. aku diam memendam semua jeritan hati ini..
aku sepi sendiri menepi dikeramaian setelah kau pergi, seseorang yang slalu menemaniku kala kesepian itu menjemput.. namun kehidupan mendewasakanku..
Siang berganti malam, begitu juga sebaliknya.. relung hatiku menguatkan aku kembali, aku bangkit lagi dalam kebisuan.. apa yang aku putuskan memang akan membuatku berpikir keras, namun akibatnya aku bisa tersenyum lagi menatap dunia.. dengan berat hati aku harus melakukan ini sayang.. bukan karna aku sudah tidak mencintaimu, cintaku padamu takkan pernah berubah.. ingatlah hal itu sayang.. aku hanya tak ingin kamu, aku, kita terluka lebih jauh.. tapi harus kamu tau, setiap ku terdiam, saat ku berdoa, ketika ku mengingatmu aku kan terus berdoa kelak kau adalah pemimpin sejatiku.. dan dilubuk hatiku yang paaaaling indah, namamu juga terukir disana dan takkan ku hapuskan selamanya.. I promise it J
Keep smile, dear.. I believe we can do it! you know that I’m loving you so much..