Banyak rintangan yang sudah ku lalui. Semuanya ku lakukan
dengan sabar dan tenang.Aku menikmati semua yang menerpa pada kehidupanku. Dan
sedikit demi sedikit semuanya terselesaikan. Namun hanya satu yang sampai saat
ini masih terus saja menggerogoti isi kepalaku. Juga hatiku. Itu ingatan
tentangmu. Ternyata aku masih belum “bangkit”. Sudah hampir setahun aku
bergumul dengan ini. Dengan kisah lalu. Saat denganmu. Entahlah aku ini masih
merasakan rasa yang tak terungkapkan itu ataupun tidak. Aku tak tau. Aku
bingung. Dilain pihak, aku ini merasa ingin merasakan jatuh cinta pada hati
yang lain. Dan aku pernah mencobanya. Mencintai dia. Pria seperjuanganku. Yang
dulu ia duduk disampingku. Aku benar merasakan jantungku berdegup kencang saat
ia ada didekatku. Aku merasa rindu padanya bila saat itu aku tau bahwa ia ada
namun aku belum melihat wujudnya. Tapi pada akhirnya. Saat aku sendiri. Aku
malah memikirkanku. Aku berusaha untuk merindukan dia. Namun percuma. Aku sulit
merindukan dia jika ia berada jauh dariku. Aku bingung. Aku tak mengerti dengan
apa yang aku rasakan ini padanya. Mungkin ini bukanlah cinta yang dimaksud.
Lagi-lagi aku bingung. Aku tak pernah mencintai seseorang sekeras ini. Aku
merasa berdosa bila memikirkanmu. Bila memeluk “Pin”. Ada yang lain dihatimu.
Ada yang lain yang telah mengunci perhatianmu. Aku hanya tertunduk lesu
dihadapan-Nya. Aku pasrah bila memang harus merasakan perasaan yang tak
mengenakkan ini. Kan ku ikuti jalan-Nya. Karna ku tau. Ia tau apa yang terbaik
untukku. Karna Ia akan menuntunku pada kebahagiaan meski pada jalan yang sulit
untuk aku terobos. Kalaupun aku dan kamu akan berjodoh. Samudera terluas pun
takkan bisa memisahkan. . – 21/8/2013 2:32 P.M.
Jumat, 23 Agustus 2013
Minggu, 14 Juli 2013
Sekuat Hatimu
Raffi tampak tergesa-gesa
melewati beberapa koridor. Hatinya berkecamuk bagaikan Perang Dunia ke-III.
Berbagai pertanyaan muncul dipikirannya. Jantungnya berdegup dengan kencang
ketika ia terpaku didepan sebuah ruangan.
“Luna sudah menunggumu cukup
lama,” ucap seorang pria yang lebih tua darinya
Ia menoleh, “Ya..”
***
“Cepetan wey! Katanya balap
sepeda” Raffi menoleh
“Sabaaar,” Luna berhenti
disampingnya dan mengusap kening
“Haha gitu aja keringetan”
Luna menatap sinis
“Aw! Takuuut.. Pacarku ngambek
hihi Love you Luna” Ia tersenyum
Luna tersipu malu, ‘Bahagianya
punya seseorang yang selalu membuatku tersenyum’
Seketika kedua bola mata Luna
terbuka lebar ketika seseorang bersin mengagetkan.
“Lha? Tadi kamu tidur?” Tanya
Tasya
Luna tersenyum
“Nekat. Lagi pelajaran Bu Menik
malah tidur. Kalo sampe ketauan, kamu disuruh nelen kamus antropologi tiga
lapis itu!”
“Hehehe”
“Dih! Nyengir aja daritadi, udah tuh
perhatiin Bu Menik”
‘Huh, Tasyaa. Gangguin mimpi
indah gue aja deh. Ya walaupun dia bukan pacarku lagi, tapi hati kecilku masih
berharap pada kehadirannya lagi. Ya Tuhan, benih apa yang dia tanamkan dalam
hati ini? Hah, kalimat itulah yang sering ia katakan saat itu. Terdengar konyol
memang, tapi sekarang gue rindu ia mengucapkan itu. Tapi sudahlah, hidup gue harus
berlanjut. Gue ga boleh terpaku pada satu cowo. Toh kalo jodoh pun pasti balik
lagi’
***
“Pusing gue praktek tadi. Huh!
Ngabisin masa muda banget” keluh Tasya
“Masa muda?” Luna memakai helmnya
“Iya, Cuma praktek gitu doang
sampe magrib gini” Tasya menunggangi motor matiknya
“Yaelah, kirain apaan. Kalo
ngerjain apa-apa itu harus ikhlas, jangan kerjain iya gerutu iya. Udah cape
makin cape karna emosi. Udah yuk! Cari makan. Gue yang traktir deh,”
“Asiiik,” Tasya mengejar matik
Luna yang berangkat lebih dulu
Setiap orang berhak untuk
dicintai, begitupun sebaliknya. Meskipun orang yang dicintai akan pergi bersama
cinta yang lain. Meskipun orang yang dicintai bahagia bersama cinta yang lain.
Meskipun hati teriris oleh badai rindu. Ia tetap sepenuh hati mencintainya.
Apakah ini cinta yang sebenarnya? Hanya waktulah yang bisa menjawab.
“Makan dimana Lun?” Tanya tasya
sambil tetap fokus mengendarai
“Ga tau. Enaknya dimana ya? Asal
murah sama bikin kenyang”
“Gimana kalo makan pecel aja?”
“Hah? Pecel?”
“Iyaa. Gue tau tempatnya yang
cocok buat anak kost kekurangan gizi kayak Lo. Gimana?”
“Sembarangan. Gue cuma gemuk yang
tertunda”
Tasya tertawa, “Gimana?”
“Ya udah ayo!”
***
“Kenapa sih Lun? Perasaan dari
tadi diem aja. Ga suka pecel tadi ya?” Tasya menghampiri Luna yang tengah duduk
termenung dikursi panjang depan kost
Luna menggeleng, “Cuma lagi inget
seseorang aja kok”
“Raffi?” tembak Tasya sambil duduk
Luna menarik napas panjang,
“Mungkin” terpancar rona kesedihan diwajahnya. Semacam rindu. “Gue inget dulu
pernah makan pecel sama dia” ia tersenyum pahit
“Lun, sadar ga sih Lo itu udah
pendem perasaan udah terlalu lama? Sekarang lo udah kuliah di Farmasi semester
dua, sedangkan Lo pendem perasaan ini tuh dari kelas 3 SMA semester awal. Gue
heran deh, apa istimewanya sih dia?”
Luna terdiam sejenak, “Yang Gue
rasain, dia tuh tau cara membahagiakan seorang wanita. Kadang Gue nyesel,
kenapa waktu hubungan Gue sama dia ga Gue perjuangin didepan Ayahnya dia.
Kenapa..” kata-kata Luna terpotong oleh butiran air mata
Tasya memeluk tubuh kurus Luna, “Lupain
dia ya Lun? Gue ga mau liat lo terus-terusan kayak gini. Dia itu Cuma sepenggal
kisah cinta dalam hidup Lo”
Luna tak menjawab, hanya air mata
yang terjatuh seiringan dengan dentingan hujan rintik.
***
“Lun, ada yang mau kenalan sama
Lo”
“Haaa?”
“Gimana?”
Luna mengerutkan dahinya
“Dia kerja di Perusahaan percetakan.
Punya tanah dimana-mana. Dia mapan abis pokoknya. Cakep kok. Namanya Dimas”
Luna menatap layar Laptopnya
namun pikirannya entah berantah.
“Ini apaan Lun? Emang ada tugas
ya?”
“Bukan apa-apa kok. Ini cuma
puisinya Raffi”
Tasya memincingkan matanya,
“Pokoknya harus mau kenal sama temen gue itu. Jangan banyak tanya, ganti baju.
Dandan yang cantik. Kita ke cafĂ© Rainy, dia udah nunggu disana”
“Tapi gue malu aah,”
“Udah diem deh! Nurut sama gue.
Kali ini aja, please! Gue maksa gini juga karna gue sayang lo. Gue ga mau liat
lo sedih terus-terusan. Please!”
Luna menatap kedua bola mata
Tasya. Tangannya masih dalam genggaman sahabat karibnya itu. Matanya belum juga
bergeming. Ia menemukan sebuah ketulusan.
***
“Syaaa, pinjem lo dong..” Luna m
“Buat?”
Luna hanya tersenyum lebar.
“Please deh, lo ga ada capenya ya
kepoin tuh cowok. Facebook sama twitter diblock, bbm delcont. Tapi tetep aja
kepo,” Tasya menggelengkan kepalanya
“Tapi gue tau kok yang ngelakuin
itu bukan dia, tapi.. ceweknya” Luna
mengembungkan kedua pipinya
“Gue bingung deh, hati lo itu
terbuat dari apa sih? Dia udah ganti pacar berkali-kali, nah elo? Ditawarin ini
ga mau, dicomblangin itu ga cocok. Lo maunya yang gimana sih?”
Luna menggeleng “Mungkin gue
begini karna awalnya gue terlalu bahagia, terlalu mencinta. Eh ga taunya
kandas. Kadang gue juga ngerasa letih terus-terusan gini, tapi ujungnya malah
makin kuat. Gue bisa ngerasain apa yang dia rasain, saat sedih maupun senang.
Yah, walaupun tanpa komunikasi sama sekali..”
“Ngeri gue dengernya,” Tasya
bergidik
“Makanya pinjemin,” Luna memelas
“Dih! Katanya bisa ngerasain apa
yang dia rasain. Ya ga usah dong..”
“Peliiiiiiiiitt!!”
***
Perlahan ia berjalan. Berharap
waktu dapat berjalan dengan sangat lambatnya. Bahkan waktu dapat berhenti
sejenak untuk bisa menenangkan degup jantung yang menderu.
“Maafin gue Lun..”
***
“Gimana keadaan lo Lun?”
“Udah mendingan Sya.. Abis
darimana?” Luna menarik selimutnya hingga menyentuh dagu
“Abis ketemu produser,” ia
tersenyum
“Ciyeee yang albumnya mau
terbit,”
“Hehehe aamiin”
“Pasti deh nanti bikin fanpage di
facebook, Tasya Kamila fansclub. Beuuh!!”
“Lebay lo,” Tasya tersenyum sambil
berusaha menyembunyikan pipi merahnya
“Eh by the way ngomongin
facebook, Raffi putus sama Jessica” Luna menggigit bibir bawahnya
“tau darimana?”
“Hehe kan gue bikin akun baru,”
Tasya menghembuskan napasnya
dengan kencang. “Luna,” ia menggaruk kepala yang tak gatal “sekarang jangan
kepoin lagi tuh cowok. Bentar lagi Dimas kesini. Dan jangan protes!”
***
“Luna menunggu terlalu lama,”
Dimas menghela napas
Raffi menjatuhkan air matanya. Ia
terpaku pada satu sosok dihadapannya.
“Lo udah ngelawatin cinta sejati
lo,” Tasya bangkit dari duduknya
Raffi mulai melangkahkan kakinya.
Butir air matanya mulai tak terkendali. Ia menatap lekat wajah Luna yang
dingin.
“Gue udah coba buat deketin dia,
tapi ternyata hatinya Cuma untuk lo..”
“Setiap hari dia tersenyum
dibalik kesakitan karna separuh hatinya bersama orang lain. Ia terus saja
bercerita tentang lo dan.. semua kenangan yang terkadang gue mikir itu bodoh,”
“Cukup Sya. Gue tau geu salah.
Andai aja waktu bisa kembali..” Raffi mengangkat wajahnya berharap butiran air
matanya dapat tertahan
“Affi?”
Raffi tertegun, “Luna?”
Suasana mendadak hening.
“Kok lo ada disini?” Luna
memincingkan mata
“Lo masih hidup?”
“Ini gue udah bangun kan? Ini
bukan mimpi kan?”
“Ini..” Raffi menoleh kearah
Tasya dan Dimas, “Sialan lo berdua”
“Hahaha ini sih ga sebanding
dengan bosennya gue liat tuh anak merengut tiap hari. Dia mah sakit gejala
Thypus. Udeh, sikat Fi”
“Tau. Liat tuh, masih cengo gitu”
ucap Dimas
Raffi hanya tersenyum.
“Ini maksudnya apaan sih?”
“Nggak.. Affi kesini Cuma mau
bilang, makasih udah mau nuggu sampe selama ini. Affi minta maaf selalu bikin
hati Luna sakit, marah, nangis, apapun itu. Affi nyesel udah ngelewatin waktu
tanpa Luna. Dan sekarang, Affi ga mau itu terulang lagi. Ijinkan Affi buat
melindungi, menyayangi, dan memberikan seluruh hidup Affi buat Luna. Jadi, Luna
masih mau kan setia dan bersedia merangkul Affi keika terjatuh?”
Luna hanya berkedip, “Maksudnya?
Ini mimpi bukan sih?”
“Haduh, dari dulu masih aja
bego.. Ini real cungkring! Mau kan nikah sama Affi?”
Luna mengembungkan pipinya,
“Nggak! Lo yang bego, udah tau bego, malah ngomong panjang lebar gitu. Tetep
aja dari dulu kalo ngomong tuh ga pernah to the point.”
“Trus? Nolak?”
Luna terdiam sejenak, “Oh Tuhan,
benih cinta apa yang dia tanam dihati ini?” kemudian ia menyeka air mata
bahagianya.
Langganan:
Postingan (Atom)