“Kita harus mengakhiri hubungan
kita!”
“Kenapa? Kamu udah ga
cinta lagi? Apa aku bikin salah? Atau, ada orang ketiga?”
“Ngga. Bukan itu..
Aku ngerasa ga pantas untuk kamu”
“Jangan pernah
katakan itu! Dari awal aku cinta kamu itu tulus. Bukan …”
“Udahlah! Aku
khawatir sama masa depan kamu. Bener kata Ayahku …”
“Segampang itu kamu
terpengaruh? Selemah itu kamu nyerah gitu aja? Tatap mataku! Lihat apa yang aku
rasakan!”
“Ra, cinta emang
harus gini. Kita harus berpisah, semoga kamu dapetin yang lebih baik dariku” ia
pun pergi.
“Jangan pergi!
Kembali..”
Jejaknya kian pudar oleh rintik-rintik hujan, meninggalkan seserpih luka. Sepi.
Sendiri. Menyakitkan. Sungguh, aku tak pernah menduga hal ini akan terjadi. Aku
kira kisah ini akan berakhir bahagia. Namun Tuhan berkehendak lain. Ia memiliki
cara lain untuk membuat hidupku lebih indah dari sekedar bahagia.
Aku menjalani kisah ini dengannya sejak beberapa bulan lalu. Pahit manis cinta
telah kami telan bersama. Satu hal yang paling ku ingat. Ketika ia
memberitahukan bahwa salah satu bola matanya tak bisa berfungsi dengan baik.
Jika tak segera diobati, ia akan benar-benar kehilangan kedua bola matanya. Aku
menangis sedih. Kemudian ku bertanya bagaimana perasaannya, dia hanya tersenyum
dan berkata, “aku ikhlas jika aku harus kehilangan indera-ku ini. Karna apa
yang aku miliki, sebenarnya hanya milik Allah. Aku ikhlas bila Ia akan
mengambilnya”. Aku menangis terharu. Aku tak menyangka ia akan sekuat ini.
Tetapi aku tak mengerti, mengapa ia begitu lemah jika dihadapkan dengan cinta.
Aku tak pernah mengerti akan jalan pikirannya.
Sebulan telah berlalu, ia tak pernah bertemu denganku lagi. Ia pun tak tau apa
yang benar sedang terjadi. Tak apalah.. Aku tak mau mengganggu pikirannya. Ini
butuh waktu yang tepat.
Tak hanya sekali aku meminta unutuk bertemu. Tapi ia terus mengelak,
mengabaikan permintaanku itu. Aku kesal. Hingga suatu ketika aku memaksanya
unutk bertemu ditempat terakhir kami bertatap muka. Pagi hari di Taman Kota.
Hujan mulai memberikan tetesan kehidupan dikulit Bumi ini, berjam-jam aku
menunggu kedatangan seseorang yang terus bergelut dalam pikiranku tapi tak
kunjung terlihat. Aku berteduh dibawah pohon rindang, namun tidak cukut kuat
menahan terpaan hujan. Badanku mulai basah. Kulihat ponselku mati, mungkin
karna kebasahan. Bola mataku terus menelusuri setiap sudut Taman Kota yang
mulai tertutup oleh butiran-butiran air hujan. Kian lama, kian deras.
Pandanganku sulit untuk melihat sekitar. Dan gelap.
“Kamu udah sadar nak? Syukurlah..”
“Ini dimana,
Ma?” aku mengusap keningku
“Ini di rumah sakit.
Mama khawatir kamu kenapa-napa. Kamu ketemuan kok maksa banget. Padahal kalo
ujan ya pulang, jangan keras kepala gitu. HP kamu ga aktif, untung kemarin
temen mama liat kamu pas pingsan” oceh mama
“Ha? Kemarin?”
“Kamu pingsan sampe
seharian. Tolonglah sayang, jaga kesehatan kamu.. Kalo kamu sakit, mama ikut
sakit” mama meneteskan air mata
“Maafin Ira ma..”
Mama mengusap keningku penuh cinta. Matanya memancarkan rona kesedihan. Aku
merasa bersalah telah membuat orang yang telah mengandungku selama 6 bulan itu
bersedih. Ya, aku memang terlahir prematur. Maka dari itu hingga sekarang
kesehatanku sering pasang surut. Ayahku telah menikah lagi setelah bercerai
dengan mama. Dan aku adalah anak satu-satunya anak yang terlahir dari rahim mama.
Seketika ku teringat pada sosok yang sempat ku nanti-nati.
“Ma, Bintang tau Ira
gini?”
“Udahlah sayang..
Jangan dulu pikirin yang lain. Fokus dulu untuk kesembuhan kamu. Mama panggil
Dokter dulu ya”
Aku diam menelan pahit. Mengapa untuk bertemu saja sampai begini.. aku melihat
dibalik jendela ruang ICU banyak orang yang berlalu lalang. Namun, tanpa
sengaja mataku menangkap sesosok yang pernah ku temui.
Tobe continue..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar